Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Tentang Dia. Si Ferguso bersifat Firaun

Paduka, saya habis pikir. Kok ada, ya, orang yang kayaknya sayang banget mengeluarkan duit. Meskipun itu buat kepentingan sendiri. Meskipun buat kebutuhannya sendiri. Aneh lho. Contoh kasus, misalnya si orang itu perlu barang/alat untuk dipakai dalam jangka waktu yang lama, tapi dia nggak punya. Kalo dia nggak kikir seperti Firaun, pasti yang dia lakukan adalah membelinya dong. Atau meminjam juga. Tapi sementara, sebelum dia punya. Nah, si Cotton Buds ini, dia lebih milih minjam karena karena gak mau beli. Bukan nggak sanggup beli, lho ya.. tapi nggak mau. Di sekitar kalian, ada nggak sih orang yang kaya gitu? Atau, barangkali anda sendiri seperti itu? Kalau iya.. sadar, bangke Firaun. Anda itu merugikan orang. Bermodal dong..! Saya, curiga, kayaknya orang begitu itu nggak pernah sedekah seumur hidupnya. Kecuali sedekah tenaga, mungkin. Mungkin itu juga. Kalo dalam bentuk materi, kayaknya nggak pernah deh. Lah, gimana mau sedekah, sama diri sendiri aja pelit, dia. Teman ka...

Ternyata Saya Adalah Netizen Yang Tidak Aptudet.

Selamat malam, Bong, Pret, yang  (militan) mungkin saat ini lagi pada sibuk nyari bacot yang salah dari masing-masing Capres jagoan Lawan-lawannya. Bong, Pret, di era digital yang kini segala sesuatu seolah berada dalam genggaman tangan, nggak lazim, ya, rasanya kalau kita (Netizen, katanya.) tidak tau sesuatu (apa pun itu) yang lagi jadi trending topik di sosmed. Apalagi untuk sekelas acara Debat Capres. Sungguh janggal rasanya kalo sampe ngga tau. Iya kan? Dan, anjir. Ternyata kejanggalan itu dialami oleh saya sendiri, Bong, Pret. Hiyaaaaaaaa.. Sumpah. Saya nggak ngeh bahwa ternyata Debat Capres babak ke dua berlangsung malam ini. Sumpah.. saya ngga ngeh. Kalian, ngga kasih tau aku sih. Padahal jadwal acaranya sudah diiklankan sejak jauh-jauh hari. Padahal, saya sendiri selalu onlen sekurang-kurangnya 10 jam dalam sehari. Serius lho saya. Tapi tidak sepenuhnya internetan sih. Ada nonton film, maen game dan kadang iseng wasapan sama cewek2 labil yang lagi seneng-sen...

Diary Untuk Anakku

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuu. Selamat malam, Anakku yang saat ini belum lahir. Dan entah kapan akan lahir. Semoga disegera-kan, ya... amiin. Kamu belum lahir, Nak. Kenalin, Nak, aku Abahmu. Abah itu adalah sebutan untuk seorang Ayah dalam budaya suku sunda. Sedangkan sebutan untuk Ibu, adalah Ambu. Kenapa aku mengenalkan diri sebagai Abah, bukan Ayah, Abi, Bapak atau Papah?, karena Babah asli orang sunda, Nak. Jadi, aku ingin kamu memanggilku Abah atau Babah aja.. bukan yang lain. Dan kalo kebetulan nanti Ibumu juga satu suku dgn Babah, kamu harus memanggilnya Ambu, ya. Itu juga panggilan untuk Ibu dalam budaya kita. Kalo beda suku dgn Babah, ya, berarti kamu harus memanggil dia sesuai dgn budayanya, ya. Nak, saat ini usia Babah sudah otw ke 25. Eh. Udah ke 26 tahun kali. Itu usia yang udah cukup tua untuk seorang bujang, Nak. Mudah-mudahan, nanti, di usia segitu, kamu sudah mapan dan punya Anak, ya. Amiin. Berdasarkan data dari KTP, Babah lahir di Cianjur, t...

Kue Tradisional Sunda

Gambar
Kueh Ali. Ini diaaaa..! Kue khas Sunda.. kue favoritnya Mr. Barack Obama, Mr. Erdogan, Mr. Vladimir Putin, Mr. Donald Trump dan Mr. Kim Jong Un waktu mereka masih nge-Kost bareng di Cianjur. "Ring Cake" namanya. (Kalau orang Englesh yang bikin) Karena penemunya Urang Sunda dan dibuat di tanah Sunda, ya, Urang Sunda menyebutnya "Kueh Ali". Kue-nya pakai "H" ya. Jangan tanya kenapa? Suka suka kami, Urang sunda lah.. Dan kata "Ali" itu jika diartikan kedalam bahasa Indonesia, artinya adalah "Cin-cin". Jadi, kalau dalam bahasa Indonesia, ini "Kue Cin-cin" punya nama. Nama kue yang mengacu pada bentuknya yang bulat/bundar juga bolong tengahnya seperti (Donat) Cincin ini, genre rasanya adalah manis. Sama seperti (janji-janji kamu) jenis kue pada umumnya. Kenapa manis? Karena (gak pakai MICIN) salah satu bahan utamanya adalah gula aren. Kue ini komposisinya gak banyak, cuma dua jenis aja; Tepung Beras dan Gula. Sed...

Suara Untuk Orang Yang Sudahlah Miskin, Jelek Pula

Dunia ini adalah milik Orang Kaya dan yang bagus rupa saja, kawan. Kita yang sudahlah miskin, jelek pula ini, hanya numpang, kawan. Hanya numpang. Tau diri-lah Kitaaaaa. Kita dihidupkan di bumi sebetulnya untuk menebus tiket ke Surga saja. Bukan untuk menikmati dunianya. Bukan. Kita nggak berhak untuk itu, Kawan. Jadi, kita yang hanya numpang ini, sebaiknya kita perbanyak ibadah saja. Jangan menyimpang terus. Jangan maksiat terus. Jangan sampai kita yang sudahlah jelek dan miskin ini, hidupnya paling berdosa pula. Jangan, kawan. Rugiiiiii! Jangan sampai kita di Dunia ini hidup menderita, setelah mati, kekal di Neraka. Naudzubillah.. amit2+1000 Sudahlah... cukup hanya di dunia saja kita menderita. Setelah mati, kita pesta di Surga. Amiin. Ayo. Kita Hijrah.😂😂

Maja Sari, 8 November 2018

Di luar hujan lebat. Di dalam sangat gelap. Sengaja lampunya ku matikan. Sebab kalau ku hidupkan, itu sama dengan aku mengundang ribuan Serangga penggemar cahaya yang tiba-tiba datang entah dari mana dan akan langsung memenuhi seluruh ruangan Tendaku. Ya, meski dengan keadaan lampu mati begini, Nyamuk jadi akan semakin leluasa menjamah tubuh halusku. Tapi (mudah-mudahan) itu tidak akan terjadi sebab diseluruh bagian organ tubuh terbukanya sudah aku balur dgn losyen anti Galau. Malam semakin larut, hujan belum juga reda. Dan banjir pun tak kunjung surut. Malah genangan airnya semakin naik hingga melewati mata kaki-ku. Ku lihat kini sudah hampir tidak ada lagi titik yang tanpa genangan air. Dan karena itu aku jadi gak bisa tidur meski mata sudah terasa sangat ngantuk. Aku sedih. Gamang, takut akan terjadi sesuatu ke padaku... atau tetangga-tetanggaku. Aku merenung dalam kantong Plastik. Pikiranku dipenuhi bayangan wajah Olla Ramlan yang selama seharian ini belum ku lihat fotonya....